Category Archives: LiFe

How Should We Educate Our Children

Assalamualaikum, pagi sahabatku… ^^
Kali ini Zahrah mo berbagi sedikit ilmu yang semalem gak sengaja Zahrah dapat dari Abi (ayahku). Kebetulan Abi baru pulang dari luar kota semalem, tepatnya dari Semarang. Di sana selain ada urusan kantor sekaligus ada training. Memang Abi sering banget ikutan yang namanya training or workshop. Entah sudah berapa banyak training dan macamnya yang sudah beliau ikuti, dan tidak jarang kami  (Umi (Ibuku), Aku plus adikku) diajak untuk ikut hadir ke training-training tersebut. Sesampainya di rumah semalem, Abi kasi 2 lembar brosur (masing-masing untuk Aku dan adikku), pesannya “Disimpan, jangan sampai HILANG”. Haaaa, pikirku apaan ciii, ko Abi pake bilang gitu segala??? Setelah ku baca isinya… Hmmm, baru ku paham maksud perkataan beliau tadi, mungkin maksud Abi, “Camkan kata-kata ituu dan jangan sampai kamu salah didik anak-anakmu nanti!” kurang lebih itu yang ku tangkap. Karena memang Aku dibesarkan tidak dalam kondisi ortu yang sempurna buat ku. Aku dibesarkan dalam keluarga yang islami, Ayahku orang yang bijak dan sabar, tidak banyak bicara tapi sekali bicara ucapannya lebih peka ketimbang ibuku yang cenderung lebih banyak omong (suka ngomel, hehee) dan cenderung wataknya keras, ringan tangan pula orangnya(ini yang paling gak ku suka). Intinya kalau biasanya dalam banyak keluarga ayahlah sosok yang banyak ditakuti anak-anaknya(yang notabenenya keras dan kaku orangnya), justru dalam keluargaku malah sebaliknya. Jadi jujur, ayahlah yang lebih bersahabat bagiku. Tidak seperti kebanyakan remaja putri yang mungkin bisa begitu dekat dengan mamanya. Aku lebih suka berbicara dengan ayahku, bisa diajak diskusi, tukar pendapat, kasi masukan dan solusi pastinya. Btw beginilah isi pesannya:

Jika anak dibesarkan dengan celaan, ia belajar memaki.

Jika anak dibesarkan dengan permusuhan, ia belajar berkelahi.

Jika anak dibesarkan dengan cemoohan, ia belajar rendah diri.

Jika anak dibesarkan dengan penghinaan, ia belajar meragukan diri.

jika anak dibesarkan dengan toleransi, ia belajar menahan diri.

jika anak dibesarkan dengan dorongan, ia belajar percaya diri.

Jika anak dibesarkan dengan pujian, ia belajar menghargai.

Jika anak dibesarkan dengan dukungan, ia belajar untuk menyenangi diri.

jika anak dibesarkan dengan kasih sayang dan persahabatan, ia belajar menemukan cinta dalam kehidupannya.

Setiap orang pasti punya versinya masing-masing… Kita memang tidak bisa memilih mana yang kita harapkan orang tua kita terapkan dalam mendidik kita, karena memang semuanya sudah terjadi. Tapi kita masih punya pilihan, yang mana kiranya yang akan kita berikan pada buah hati kita nantinya. Demi masa depan dan kebaikannya. Andai ada diantara kita yang terlanjur mendapatkan pendidikan yang kurang baik dari orang tua kita, janganlah kemudian membenci dan menghakimi beliau. Itu semua terjadi, mungkin hanya karena mereka tidak paham atas apa yang telah mereka lakukan, bahwa cara yang mereka pilih dalam mendidik anak-anaknya nantinya akan sangat berpengaruh dalam pembentukan kepribadian sang anak. Oleh karenanya, tentu kita tidak ingin hal buruk yang telah menimpa kita akan terulang kembali pada buah hati kita. Semoga Allah SWT selalu membimbing kita, agar nantinya di saat kita, khususnya saya pribadi sudah saatnya menjadi seorang Bunda, bisa menjadi bunda sekaligus teladan yang baik bagi buah hati kita tercinta… Insyallah…

Semoga sedikit ilmu ini bisa bermanfaat buat kita semua….
_Calon Ayah dan Bunda_ ^^

When I said I Love You

WHEN U R ONLY 5 YRS OLD, I SAID I LOVE U. U ASKED ME: WHAT IS IT?
(Saat kamu 5 thn, aku bilang aku cinta padamu. kau bertanya “apa itu?”)

WHEN U R 15 YRS OLD, I SAID I LOVE U. U BLUSHED… U LOOK DOWN AND SMILE…
(Saat kamu 15 thn, aku bilang aku cinta padamu, kamu malu dgn muka memerah, menunduk dan tersenyum)

WHEN U R 20 YRS OLD, I SAID I LOVE U. U PUT UR HEAD ON MY SHOULDER AND HOLD MY HAND… AFRAID THAT I MIGHT DISSAPPEAR…
(Saat kamu 20 thn, aku bilang aku cinta padamu, kamu meletakkan kepalamu dipundakku, memegang tanganku, takut aku akan menghilang.. pergi jauh)

WHEN U R 25 YRS OLD, I SAID I LOVE U. U PREPARE BREAKFAST AND SERVE IT IN  FRONT OF ME, AND KISS MY FOREHEAD SAID: U BETTER BE QUICK, IT’S GONNA BE LATE~
(Saat kamu 25 thn, aku bilang aku cinta padamu, kamu menyiapkan sarapan, dan mencium keningku sambil berkata, “Sebaiknya kamu cepat makan, nanti terlambat”)

WHEN U R 30 YRS OLD, I SAID I LOVE U. U SAID: IF U REALLY LOVE ME, PLEASE… COME BACK EARLY AFTER WORK .
(saat kamu 30thn, aku bilang aku cinta padamu,.kamu menjawab, “klo kamu memang cinta padaku, pulanglah lebih awal dari kantor)

WHEN U R 40 YRS OLD, I SAID I LOVE U. UR CLEANING THE DINING TABLE AND
SAID: OK DEAR, BUT IT’S TIME FOR U TO HELP OUR CHILD WITH HIS/HER REVISION…
(Saat kamu 40 thn, aku bilang aku cinta padamu, kamu membersihkan meja makan dan berkata, “baik sayang, tapi ini sudah waktunya membantu anak-anak mengerjakan tugasnya..”)

WHEN U R 50 YRS OLD, I SAID I LOVE U. UR KNITTING AND U LAUGH AT ME.
(Saat kamu 50 thn, aku bilang aku cinta padamu,..kamu asyik menjahit dan tertawa mendengarnya)

WHEN U R 60 YRS OLD, I SAID I LOVE U. U SMILE AT ME
(Saat kamu 60 thn, aku bilang aku cinta padamu, kamu hanya tersenyum)

WHEN U R 70 YRS OLD. I SAID I LOVE U. WE SIT ON THE ROCKING CHAIR WITH OUR GLASSES ON. I’M READING YOUR LOVE LETTER THAT U SENT TO ME 50 YRS AGO…WITH OUR HAND CROSSING TOGETHER…
(Saat kamu 70 thn, aku bilang aku cinta padamu. Kita duduk berdua diatas kursi goyang. dengan kacamata sambil membacakan surat cinta yang pernah kamu buat 50 thn yang lalu…tangan kita saling bersilangan)

WHEN U R 80 YRS OLD, U SAID U LOVE ME! I DIDN’T SAY ANYTHING BUT CRIED… THAT DAY MUST BE THE HAPPIEST DAY OF MY LIFE! BECAUSE U SAID U LOVE ME!!
(Saat kamu 80 thn, kamu bilang kamu cinta padaku. Aku hanya diam tapi mataku berlinang air mata.
hari itu adalah hari yang paling membahagiakan bagiku karena kamu bilang kamu cinta padaku!!!!)

PLEASE APPRECIATE YOUR LOVED ONES..
SAY “I LOVE YOU” TO THEM TODAY

Cinta Adalah Hadiah Terindah Dari Tuhan

Sejauh mana CINTA bisa membuat manusia bahagia, sejauh mana cinta mampu membuat hidup ini menjadi lebih indah, berbicara tentang cinta selalu saja membuat yang mendengarnya tersenyum bahagia, namun tak sedikit pula yang meneteskan air mata saat mendengar dan mengenang cinta nya yang telah berlalu.

Cinta adalah sebuah hadiah terindah yang Tuhan berikan untuk kita agar kita selalu bersyukur dalam menjalani kehidupan. Cinta bukanlah penderitaan, cinta bukanlah alasan untuk kita menangis ataupun berbuat hal-hal bodoh yang kadang kita lakukan dengan mengatas namakan cinta, Cinta itu indah, cinta itu sebuah rasa yang tak dapat kau lihat dengan mata telanjang namun hanya dapat kau rasakan dengan hati yang bersih dan terrefleksikan dengan sebuah tindakan kasih.

Jangan memandang sinis pada sebuah rasa yang indah itu, sambutlah kedatangannya dengan penuh kebahagiaan dan penuh suka cita, syukurilah setiap kisah cinta yang kau dapatkan meskipun kadang kisahnya tak seindah yang kau ingin kan. Karna Tuhan menciptakan manusia dan seluruh ciptaannya dengan kasih sayang dan cinta kasih.

Menunggu…

Di suatu tempat di tepian sungai, seorang pemuda memandangi seorang pemancing tua. Sambil duduk beralas daun pisang, Pak Tua begitu menikmati kegiatan memancing. Ia pegang gagang pancingan dengan begitu mantap. Sesekali, tangannya membenahi posisi topi agar wajahnya tak tersorot terik sinar matahari. Sambil bersiul, ia sapu hijaunya pemandangan sekitar sungai.

Sang pemuda terus memandangi si pemancing tua. “Aneh?” ucapnya membatin. Tanpa sadar, satu jam sudah perhatiannya tersita buat Pak Tua. Tujuannya ke pasar nyaris terlupakan. “Bagaimana mungkin orang setua dia bisa tahan berjam-jam hanya karena satu dua ikan?” gumamnya kemudian.

“Belum dapat, Pak?” ucap si pemuda sambil melangkah menghampiri Pak Tua. Yang disapa menoleh, dan langsung senyum. “Belum,” jawabnya pendek. Pandangannya beralih ke si pemuda sesaat, kemudian kembali lagi ke arah genangan sungai. Air berwarna kecoklatan itu seperti kumpulan bunga-bunga yang begitu indah di mata Pak Tua. Ia tetap tak beranjak.

“Sudah berapa lama Bapak menunggu?” tanya si pemuda sambil ikut memandang ke aliran sungai. Pelampung yang menjadi tanda Pak Tua terlihat tak memberikan tanda-tanda apa pun. Tetap tenang.

“Baru tiga jam,” jawab Pak Tua ringan. Sesekali, siulannya menendangkan nada-nada tertentu. “Ada apa, Anak Muda?” tiba-tiba Pak Tua balik tanya. Si Pemuda berusaha tenang. “Bagaimana Bapak bisa sesabar itu menunggu ikan?” tanyanya agak hati-hati.

“Anak Muda,” suara Pak Tua agak parau. “Dalam memancing, jangan melulu menatap pelampung. Karena kau akan cepat jenuh. Pandangi alam sekitar sini. Dengarkan dendang burung yang membentuk irama begitu merdu. Rasakan belaian angin sepoi-sepoi yang bertiup dari sela-sela pepohonan. Nikmatilah, kau akan nyaman menunggu!” ucap Pak Tua tenang. Dan ia pun kembali bersiul.

**

Tak ada kegiatan yang paling membosankan selain menunggu. Padahal, hidup adalah kegiatan menunggu. Orang tua menunggu tumbuh kembang anak-anaknya. Rakyat menunggu kebijakan pemerintahnya. Para gadis menunggu jodohnya. Pegawai menunggu akhir bulannya. Semua menunggu.

Namun, jangan terlalu serius menatap ‘pelampung’ yang ditunggu. Karena energi kesabaran akan cepat terkuras habis. Kenapa tidak mencoba untuk menikmati suara merdu pergantian detak jarum penantian, angin sepoi-sepoi pergantian siang dan malam, dan permainan seribu satu pengharapan.

Nikmatilah! Insya Allah, menunggu menjadi sesuatu yang sangat menyenangkan. Seperti memandang taman indah di tepian sungai.

Filosofi Pohon

Dalam sebuah perjalanan seorang ayah dengan puteranya, sebatang pohon kayu nan tinggi ternyata menjadi hal yang menarik untuk mereka simak. Keduanya pun berhenti di bawah rindangnya pohon tersebut.

”Anakku,“ ucap sang ayah tiba-tiba. Anak usia belasan tahun ini pun menatap lekat ayahnya. Dengan sapaan seperti itu, sang anak paham kalau ayahnya akan mengucapkan sesuatu yang serius.

”Adakah pelajaran yang bisa kau sampaikan dari sebuah pohon?“ lanjut sang ayah sambil tangan kanannya meraih batang pohon di dekatnya.

”Menurutku, pohon bisa jadi tempat berteduh yang nyaman, penyimpan air yang bersih dari kotoran, dan penyeimbang kesejukan udara,“ jawab sang anak sambil matanya menanti sebuah kepastian.

”Bagus,“ jawab spontan sang ayah. ”Tapi, ada hal lain yang menarik untuk kita simak dari sebuah pohon,“ tambah sang ayah sambil tiba-tiba wajahnya mendongak ke ujung dahan yang paling atas.

”Perhatikan ujung pepohonan yang kamu lihat. Semuanya tegak lurus ke arah yang sama. Walaupun ia berada di tanah yang miring, pohon akan memaksa dirinya untuk tetap lurus menatap cahaya,“ jelas sang ayah.

”Anakku,“ ucap sang ayah sambil tiba-tiba tangan kanannya meraih punggung puteranya. ”Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran,“ ungkap sang ayah begitu berkesan.

**

Keadaan tanah kehidupan yang kita pijak saat ini, kadang tidak berada pada hamparan luas nan datar. Selalu saja ada keadaan tidak seperti yang kita inginkan. Ada tebing nan curam, ada tanjakan yang melelahkan, ada turunan landai yang melenakan, dan ada lubang-lubang yang muncul di luar dugaan.

Pepohonan, seperti yang diucapkan sang ayah kepada puteranya, selalu memposisikan diri pada kekokohan untuk selalu tegak lurus mengikuti sumber cahaya kebenaran. Walaupun berada di tebing ancaman, tanjakan hambatan, turunan godaan, dan lubang jebakan.

”Jadikan dirimu seperti pohon, walau keadaan apa pun, tetap lurus mengikuti cahaya kebenaran.“

Source: eramuslim.com

Membeli Cinta

Berikut adalah satu kisah inspiratif yang semoga bisa bermanfaat buat semua yang baca… 🙂
Judulnya Buying Love, Membeli Cinta. Sebuah cerita dari Tiongkok. Inti ceritanya begini.

Di sebuah daerah tinggal seorang saudagar kaya raya. Dia mempunyai seorang batur (baca: hamba sahaya) yang sangat lugu – begitu lugu, hingga orang-orang menyebutnya si bodoh.

Suatu kali sang tuan menyuruh si bodoh pergi ke sebuah perkampungan miskin untuk menagih hutang para penduduk di sana. “Hutang mereka sudah jatuh tempo,” kata sang tuan.

“Baik, Tuan,” sahut si bodoh. “Tetapi nanti uangnya mau diapakan?”

“Belikan sesuatu yang aku belum punyai,” jawab sang tuan.

Maka pergilah si bodoh ke perkampungan yang dimaksud. Cukup kerepotan juga si bodoh menjalankan tugasnya; mengumpulkan receh demi receh uang hutang dari para penduduk kampung. Para penduduk itu memang sangat miskin, dan pula ketika itu tengah terjadi kemarau panjang.

Akhirnya si bodoh berhasil jua menyelesaikan tugasnya. Dalam perjalanan pulang ia teringat pesan tuannya, “Belikan sesuatu yang belum aku miliki.” “Apa, ya?” tanya si bodoh dalam hati. “Tuanku sangat kaya, apa lagi yang belum dia punyai?” Setelah berpikir agak lama, si bodoh pun menemukan jawabannya. Dia kembali ke perkampungan miskin tadi. Lalu dia bagikan lagi uang yang sudah dikumpulkannya tadi kepada para penduduk. “Tuanku, memberikan uang ini kepada kalian,” katanya.

Para penduduk sangat gembira. Mereka memuji kemurahan hati sang tuan. Ketika
si bodoh pulang dan melaporkan apa yang telah dilakukannya, sang tuan geleng-geleng kepala. “Benar-benar bodoh,” omelnya.

Waktu berlalu. Terjadilah hal yang tidak disangka-sangka; pergantian pemimpin karena pemberontakan membuat usaha sang tuan tidak semulus dulu. Belum lagi bencana banjir yang menghabiskan semua harta bendanya. Pendek kata sang tuan jatuh bangkrut dan melarat. Dia terlunta meninggalkan rumahnya. Hanya si bodoh yang ikut serta. Ketika tiba di sebuah kampung, entah mengapa para penduduknya menyambut mereka dengan riang dan hangat; mereka menyediakan tumpangan dan makanan buat sang tuan.

“Siapakah para penduduk kampung itu, dan mengapa mereka sampai mau berbaik hati menolongku?” tanya sang tuan. “Dulu tuan pernah menyuruh saya menagih hutang kepada para penduduk miskin kampung ini,” jawab si bodoh. “Tuan berpesan agar uang yang terkumpul saya belikan sesuatu yang belum tuan punyai. Ketika itu saya berpikir, tuan sudah memiliki segala sesuatu. Satu-satunya hal yang belum tuanku punyai adalah cinta di hati mereka. Maka saya membagikan uang itu kepada mereka atas nama tuan. Sekarang tuan menuai cinta mereka.”

 

Kekuatan Sejati Seorang Wanita

Dalam hidup ini, Allah telah menciptakan alam seisinya dengan sangat sempurna. Semua dirancang dan dikendalikan sesuai dengan tata hukum Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Penciptaannya berupa keteraturan yang terancang. Bukti dari semua itu adalah diciptakannya segala sesuatu dengan berpasang pasangan.

Allah menciptakan semua berpasang pasangan. Ada baik dan buruk, panjang pendek, tinggi rendah, jauh dekat, dan pria wanita. Semua itu merupakan bukti kesempurnaan. Perbedaan tersebut bukanlah hal untuk membedakan. Perbedaan itu tidak sekedar permainan kata kata belaka. Tapi sebuah hal yang harus difahami. Karena dengan perbedaan itulah segala kebaikan muncul.
Semuannya mempunyai kekuatan yang dahsyat. Pria dan wanita. Tidak sekedar perbedaan kata. Keberadaan keduannya sangat menentukan perkembangan dunia ini. Khususnya wanita. Sosok yang penuh dengan kelembutan dan kasih sayang ini mempunyai potensi dan kekuatan yang begitu besar.

Selama ini keberadaan wanita sangat dikesampingkan sekali. Geraknya tidak pernah dijadikan perhatian. Tapi ketika semua orang mengetahui potensi besarnya, wanita merupan pusat hal yang diperhatikan.

Wanita tidak lain merupakan agen perubah utama. Wanita mempunyai peran penting dalam perubahan dan kemajuan suatu bangsa. Hal ini bertolak belakang dengan berbagai hal yang pernah diperbincangkan.

Di zaman Jahiliyah Arab, mempunyai anak seorang wanita merupakan aib terbesar. Dan untuk menutupinya, sebagian besar seorang bapak akan membunuh hidup hidup anak wanitanya. Tidak terkecuali di kalangan kerajaan. Wanita dipandang sebagai sosok yang nantinya tidak bisa meneruskan tampu kekuasaan kerajaan. Makanya banyak sekali wanita diragukan.

Atau jika dilihat dari segi negatif lain, wanita merupakan pemeran utama dalam kerusakan suatu bangsa. Hal ini dilihat dari berbagai cerita yang menggambarkan kekalahan Caesar karena dia tergoda dengan cleopatra. Dan masih banyak lagi cerita dan sample yang lain.

Tapi tidak jika kita melihat dari segi yang sangat realitas. Sebagaimana tadi di atas, wanita merupakan agen yang sangat berperan sekali dalam kemajuan bangsa. Mengapa hal ini bisa terjadi.

Sejenak renungkan, mengapa wanita bisa menjadi ujung tombak dari perubahan. Ya…. Wanita secara langsung atau tidak langsung nantinya adalah seorang ibu. Kehadiran seorang ibu merupakan sebuah syarat mutlak bagi seorang anak.

Peran sebagai ibu inilah yang memposisikan diri wanita sebagai juru perubah. Ibu merupakan media untuk belajar pertama kali bagi sang anak. Setuju atau tidak, seorang bayi pertama kali belajar adalah dengan ibu. Ibu inilah orang pertama kali yang memberikan ilmu yang begitu berharga bagi anak.

Pelajaran pertama adalah tentang ilmu mana yang baik dan buruk. Sebagai madrasah dan sekolah pertama untuk anaknya. Ibu akan mengajarkan mana yang baik dan buruk. Selanjutnya ibu akan mengajarkan berbagai nilai nilai yang sangat berharga. Dari nilai sosial, cultural, agama, dan nilai ilmu pengetahuan yang lain. Dengan berjalannya sebagai madrasah pertama kali inilah, ibu tampil menjadi sosok yang sangat berpengaruh sekali dalam pembentukan generasi masa depan.

Inilah kekuatan utama yang dimiliki seorang ibu. Selama ini kita hanya ribut memperdebatkan tentang hak hak asasi. Hak tentang keterbukaan peran wanita dalam peranan publik. Kita sangat jarang sekali memperbincangkan bagaimana seorang wanita menjadi ibu yang bisa melahirkan sebuah generasi tangguh di masa depan

Paku yang Ada di Hati

“Ada tiga hal yang apabila dilakukan akan dilindungi Allah dalam pemeliharaan-Nya, ditaburi rahmat-Nya dan dimasukkan-Nya kedalam surga-Nya yaitu : Apabila diberi ia berterima kasih, apabila berkuasa ia suka memaafkan, dan apabila marah ia menahan diri (tak jadi marah) .” (R. Hakim dan ibnu hibban dari Ibnu abbas dalam Min Akhlaqin Nabi)

Pada suatu ketika, hidup seorang anak yang sangat pemarah. Hal-hal sepele bisa menjadikannya naik pitam. Tapi beruntung bagi anak itu, ia memiliki seorang bapak yang sangat bijaksana.

Suatu hari, sang bapak memberikan anak itu sekarung paku. Bapak itu meminta agar anaknya melampiaskan kemarahannya dengan memakukan 1 paku ke tembok belakang rumah. Satu paku untuk setiap satu kali marah. Hari pertama pun dilalui. Hari ini anak itu marah sebanyak 35 kali, maka sebagai konsekwensinya, anak itu harus memasang 35 paku pula di tembok belakang rumah.

Hari demi hari pun berlalu, dan tampaknya terapi ini mulai berjalan lancar. Setiap hari, jumlah paku yang ditanamkan ke tembok itu makin berkurang, dari 35 menjadi 30, menjadi 23 dan seterusnya. Bahkan setelah menginjak hari ke seratus, anak itu sudah sama sekali tidak menanamkan paku ke tembok.Dengan gembira anak itu mengabarkan kepada bapaknya, bahwa sekarang ia lebih dewasa dan dapat mengendalikan emosinya. Sang bapak langsung memeluk anak itu, dan mengucapkan selamat kepadanya.

“Masih ada satu tahap lagi, nak” kata bapak itu. “Mulai sekarang, cabutlah 1 paku dari tembok setiap saat kamu dapat bersabar dan memaafkan orang yang membuatmu marah..” Anak itu pun segera menuruti perintah bapaknya. Setiap kali ia dapat bersabar dan memaafkan kesalahan orang, ia mencabut satu paku dari tembok. Hari demi hari pun berlalu, hingga tiba saat dimana ratusan paku di tembok tersebut telah habis dicabut.

Anak itu pun kembali pada bapaknya, dan melaporkan keberhasilannya tersebut. “Kamu telah berhasil nak.. kamu telah menjadi seorang anak yang luar biasa.” Bapak itu melanjutkan, “Tetapi coba amati sekali lagi tembok itu”. Sambil mengelus lubang-lubang bekas paku di tembok, bapak itu kembali melanjutkan kata-katanya.

“Lihatlah tembok ini, sekalipun kamu sudah mencabut seluruh paku yang ada, tetapi tembok tidak dapat kembali utuh lagi seperti sedia kala, banyak sekali lubang menganga dan retakan di tembok ini.” Bapak itu kemudian melanjutkan, “Setiap kamu melukai orang lain.. selamanya kamu tidak akan dapat menghapuskan luka itu.. sekalipun kamu sudah meminta maaf dan mencabut semua kemarahan dari orang-orang sekitarmu.”

(author unknown, diterjemahkan dari “Maryland”, Robert Gary Lee, 1998)

Doa Ku

Sementara begitu banyak hal berproyeksi pada diri kita sendiri,

mematut diri, berlomba pamer properti, membandingkan dompet siapa paling berisi,

pernahkah kita berpikir dalam tentang mereka yang kesusahan mencari sesuap nasi?

Apakah kita menyempatkan diri memberi sedekah pada pengemis di jalan,

memberi makan pada binatang-binatang yang kelaparan,

atau bahkan sekedar mengucap doa sebelum naik ke peraduan?

Bersyukur setiap hari.

Untuk nafas yang segar di ujung pagi.

Untuk makanan yang tersedia tanpa harus berkeringat atau berlari.

Untuk tempat yang hangat dan bukan di tepi jalan yang dingin dan sepi.

Dan maafkan aku teman, maafkan aku Tuhan,

karena masih saja aku meminta banyak tambahan,

padahal hidupku sudah nyaman.

Doaku setiap malam:

Terima kasih Tuhan, untuk hari ini.

Untuk segala hal yang terjadi, hal baik ataupun yang tidak.

Untuk segala hal yang boleh aku nikmati.

Berkatilah orang tuaku di rumah, keluarga yang selalu mendukung aku tanpa henti.

Berkatilah aku dan semua orang di sekelilingku.

Berkatilah orang-orang yang kedinginan dan kelaparan di luar sana, yang tidak bisa merasakan kehangatan seperti yang aku miliki.

Berkatilah binatang-binatang yang terlantar, dianiaya, dan tidak punya tempat tinggal,

aku percaya Engkau tidak akan pernah meninggalkan ciptaan-Mu.

Dan untuk arwah semua orang yang telah meninggal, semoga mereka menemukan kebahagiaan abadi dalam pelukan-Mu.

Juga untuk esok hari, semoga sinar kemuliaan-Mu selalu ada.

Kuatkan aku untuk segala ujian dan cobaan.

Karena segala sesuatu akan menjadi indah pada waktunya.

No Time To Pray

I just want to share this beautiful poem
by Fatma Muslima I found on the web.
It is thought provoking and should be
a good reflection for us…

“ Pray ”

I knelt to pray but not for long,
I had too much to do.
I had to hurry and get to work
For bills would soon be due.

So I knelt and said a hurried prayer,
And jumped up off my knees.
My Muslim duty was now done
My soul could rest at ease.

All day long I had no time
To spread a word of cheer.
No time to speak of Allah to friends,
They’d laugh at me I’d fear.

No time, no time, too much to do,
That was my constant cry,
No time to give to souls in need
But at last the time, the time to die.

I went before the Lord,
I came, I stood with downcast eyes.
For in his hands God held a book;
It was the book of life.

God looked into his book and said
Your name I cannot find.
I once was going to write it down…
But never found the time.

Astaghfirullah……..
Can’t you got what It means?
How can we say that we have no time for our Lord???
So don’t you ever forget to say a prayer..
🙂 Always say a prayer not only when you feel bad or worried about something in your life…..

I know there’s work to do, deadlines to meet.
You’ve got no time to spare.
But as you hurry and scurry…
Always Say A Prayer

In the midst of family chaos,
quality time” is rare.
Do your best; let God do the rest…
Always Say A Prayer

It may seem like your worries
are more than you can bear.
Slow down and take a breather…
Always Say A Prayer

God knows how stressful life can be
and wants to ease our cares.
He’ll respond to all your needs…
Always Say A Prayer

Today I’m saying a little prayer
that God will send a smile to you
and send you special blessings
through everything you have to do.

_Ameen_
-__-)

%d bloggers like this: